Friday, June 25, 2010

suka

tahun ni saya akn menduduki peperiksaan PMRU...INSYAALLAH saya akan berusaha semaksima mungkin untuk dptkan 10A+..doakan sya semoga dpt 10A tu yer..same jugak mcm kwn2 saye yg lain..



saya suka org yg berterus-terang n jujur tu je yg penting bagi saye...dan saye xsuka org yg suka bergurau kerana saye xboleh di bawa bergurau...mungkin saye akan marah die..walaupun kdg2 saye pun suka bergurau dgn org lain..

SENANDUNG ANAK PEJUANG

Pada kemanisan sekuntum senyuman
ada kelunakan tutur perkataan
agar terlukis warna kerinduan
terkenang ayah jauh di rantauan

Ayah selalu tiada disisi
tinggalkan ibu menjaga kami
terkadang tiada khabar berita
namun ibu tak pernah berduka

Sesekali hati rasa cemburu
melihat teman semuanya berayah
bermanja bermesra kasih berpadu
hidup gembira tiada gundah

Tidak tertahan menanggung rasa
kepada ibu segera bertanya
kemanakah ayah sekalian lama
hingga kini belum menjelma

Ibu tersenyum di dalam sayu
senyumnya tawar tiada indah
mungkin batinnya berlagu sendu
bila anak rindukan ayah

Tiada memujuk ibu berperi
gugurnya rambut menyusun kata
ayah pergi menabur bakti
membela agama nusa dan bangsa


buat ayah tersyg yg tiada di sisi buat selamanya..terima kasih ayah kerana tlh mengajar saya erti hidup..

OPEN YOUR EYES

Open Your Eyes
Look around yourselves
Can't you see this wonder
Spreaded infront of you
The clouds floating by
The skies are clear and blue
Planets in the orbits
The moon and the sun
Such perfect harmony

Let's start question in ourselves
Isn't this proof enough for us
Or are we so blind
To push it all aside..
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Look inside yourselves
Such a perfect order
Hiding in yourselves
Running in your veins
What about anger love and pain
And all the things you're feeling
Can you touch them with your hand?
So are they really there?

Lets start question in ourselves
Isn't this proof enough for us?
Or are we so blind
To push it all aside..?
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

When a baby's born
So helpless and weak
And you're watching him growing..
So why deny
Whats in front of your eyes
The biggest miracle of life..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look quiet we'll see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Open your eyes and hearts and minds
If you just look bright to see the signs
We can't keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Allah..
You created everything
We belong to You
Ya Robb we raise our hands
Forever we thank You..
الحمد الله
Alhamdulillah..

INSYAALLAH-MAHER ZAIN

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can`t see which way to go
Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way

Everytime you can make one more mistake
You feel you can`t repent
And that its way too late
Your`re so confused,wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame


Don`t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way
Insya Allah3x
Insya Allah you`ll find your way

Turn to Allah
He`s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don`t let me go astray
You`re the only one that showed me the way,
Showed me the way 2x
Insya Allah3x
Insya Allah we`ll find the way


sunnah memakai purdah



Riwayat Yang Menunjukkan Adanya Sunnah Menutup Wajah

Perlu kita fahami bahawa walaupun perbuatan menutup wajah dan tapak tangan bukanlah suatu perkara yang diwajibkan bagi wanita, namun perbuatan tersebut ada dasarnya dari Sunnah, dan ianya juga pernah dipraktikkan oleh para wanita di Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri (maksudnya),

“Janganlah wanita yang ber-ihram itu mengenakan penutup wajah/muka atau pun penutup/kaos (sarung) tangan.” (Hadsi Riwayat al-Bukhari, 4/42, dari Ibnu ‘Umar)

Dari hadis ini menunjukkan bahawa apabila di luar waktu berihram, mereka akan mengenakan penutup wajah dan tangan. Maka dengan sebab itulah Nabi mengarahkan apabila mereka di dalam ihram supaya tidak berbuat demikian (menutup wajah dan tangan).

Malah, terdapat banyak hadis yang menunjukkan bahawa para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memakai niqab (menutup wajah-wajah mereka). Perbuatan menutup wajah juga tsabit dari banyak atsar-atsar sahabat/tabi’in yang sahih. Ini adalah sebagaimana beberapa riwayat berikut:

1 - Dari ‘Aisyah, dia berkata:

“Biasanya para pemandu lalu di hadapan kami yang sedang berihram bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka, jika mereka melewati kami, maka masing-masing dari kami menjulurkan jilbab yang ada di atas kepala untuk menutup muka. Namun, apabila mereka sudah berlalu dari kami, maka kami pun membukanya kembali.” (Hadis Riwayat Ahmad, al-Musnad, 5/30. Hadis ini hasan, lihat al-Irwa’, no. 1023, 1024)

2 – Dari Asma’ binti Abu Bakar, dia berkata:

“Kami biasa menutup wajah kami dari pandangan lelaki dan sebelum itu kami juga biasa menyisir rambut ketika ihram.” (Hadis Riwayat al-Hakim, al-Mustadrak, 1/545. Disepakati oleh adz-Dzahabi)

3 – Dari Ashim al-Ahwal, dia berkata:

“Kami pernah mengunjungi Hafshah bin Sirin (seorang tabi’iyah) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya untuk menutup wajahnya. Lalu, aku katakan kepadanya, “Semoga Allah memberi rahmat kepadamu. Allah berfirman: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak memiliki keinginan untuk berkahwin (lagi), bagi mereka tiada dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka.” (Surah an-Nuur, 24: 60).” (Atsar Riwayat oleh al-Baihaqi, 7/93)

Berkenaan ayat 60 dari surah an-Nuur tersebut, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata di dalam tafsirnya, jil. 5, m/s. 445, katanya: “Iaitu pakaian yang jelas tampak, seperti khimar (penutup kepala) dan sejenisnya yang sebelumnya telah Allah wajibkan untuk dipakai oleh wanita sebagaimana di dalam ayat “... dan hendaklah mereka melabuhkan khimar mereka sehingga ke dadanya.”

4 – Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata:

“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam meliuhat Syafiyah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat ‘Aisyah mengenakan niqab (penutup wajah) di dalam sekumpulan para wanita. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam tahu bahawa itu adalah ‘Aisyah berdasarkan niqabnya.” (Hadis Riwayat Ibnu Sa’ad, 8/90)

5 – Dari Anas bin Malik (dalam Perang Khaibar):

“...Akhirnya para sahabat pun mengetahui bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjadikannya (Shafiyah) sebagai isteri. Ini adalah kerana beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam memakaikan khimar kepadanya dan membawanya duduk di belakangnya (di atas unta). Dan beliau pun menutupkan selendang (pakaian) beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada punggung dan wajahnya...” (Lihat: Hadis Riwayat al-Bukhari, 7/387, 9/105. Muslim, 4/146-147. Ahmad, 3/123, 246, 264)

6 – Dari ‘Aisyah (di dalam peristiwa al-Ifki), dia berkata:

(ketika di dalam suatu perjalanan perperangan, ‘Aisyah tertinggal dalam satu persinggahan) katanya, “... aku berharap kumpulan prajurit akan menyedari bahawa aku tidak ada di dalam tandu dan segera akan kembali mencariku (yang tertinggal). Ketika aku duduk di perkhemahanku itu, aku terasa mengantuk lalu aku pun tertidur.

Ketika itu, Shafwan bin Mu’aththal as-Sulaimi adz-Dzakwani juga mengalami nasib yang sama, tertinggal dari rombongan prajurit. Dia pun berjalan menghampiri perkhemahanku dan melihat dari kegelapan ada sekujur tubuh manusia yang sedang tertidur. Dia pun menghampiriku. Dan dia mengenaliku, kerana dia pernah melihatku sebelum turun ayat hijab. Ketika dia tahu bahawa yang tertidur itu adalah aku, dia pun berteriak istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Teriakan tersebut membuatkanku terjaga dari tidur dan aku cepat-cepat menutup wajahku dengan jilbab...” (rujuk di dalam Tafsir Ibnu Katsir di bawah penafsiran Surah an-Nuur, 24: 11. Sirah Ibnu Hisyam, 3/309. Hadis Riwayat al-Bukhari, 8/194-197. Muslim, 8/133-118)

Riwayat Yang Menunjukkan Dibolehkan Membuka Wajah Dan Tapak Tangan

1 - Dari Imran bin Hushain, katanya:

“Suatu ketika aku pernah duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Tiba-tiba Fatimah datang, lalu berdiri di hadapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Aku memandang ke arahnya. Di wajahnya terdapat darah yang kekuning-kuningan...”(Hadi
s Riwayat Ibnu Jarir, at-Tahzib (Musnad Ibnu Abbas), 1/286, 481)

2 – Dari Abu Asma’ ar-Rabi’, dia menyatakan bahawa pernah mengunjungi Abu Dzar al-Ghifari yang ketika itu sedang berada di Rabdzah, yang di sampingnya ada isteri yang berkulit hitam... (Hadis Riwayat Ahmad, al-Musnad, 5/159)

3 – Dari Urwah bin Abdullah bin Qusyar, dia pernah mengunjungi Fathimah binti Abu Thalib. Dia berkata, “Aku melihat di tangan Fathimah terdapat gelang tebal, yang pada tiap-tiap tangannya terdapat dua gelang.” Dia berkata lagi, “Dan aku juga melihat ada cincin di tangannya...” (Hadis Riwayat Ibnu Sa’ad, 8/366. Shahih menurut Syaikh al-Albani)

4 – Dari Mu’awiyah, dia berkata:

“Aku pernah bersama ayahku mengunjungi Abu Bakar. Aku melihat Asma’ berdiri dekat dengannya, dan Asma’ kelihatan putih (wajahnya). Lalu aku melihat Abu Bakar. Ternyata dia adalah seorang lelaki yang putih dan kurus.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 1: 10/25)

5 – Dari ‘Aisyah, katanya:

“Kami para wanita mukminah biasanya menghadiri solat Subuh bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan mengenakan kain yang tidak berjahit. Kemudian para wanita tadi pulang ke rumahnya sebaik sahaja melaksanakan solat. Mereka tidak dapat dikenali disebabkan gelap.” (Hadis Riwayat al-Bukhari & Muslim. Lihat juga Shahih Sunan Abi Daud, no. 449)

Daripada hadis tersebut, para wanita tidak dapat dikenali diakibatkan oleh keadaan yang gelap. Sekiranya tidak gelap, sudah tentu mereka dapat dikenalpasti. Ini menunjukkan bahawa mereka tidak mengenakan penutup wajah yang mana mereka boleh dikenali.

6 – Dari Ibnu Abbas dia berkata:

“Pernah seorang wanita solat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam (di saf wanita). Dia seorang wanita yang sangat cantik dan secantik-cantik wanita...” (Hadis Riwayat al-Hakim. Sahih, disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat juga, Silsilah al-Ahadis as-Sahihah, no. 2472)

Malah, bolehnya membuka wajah bagi wanita tersebut juga turut didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri,

“Katakanlah kepada lelaki yang beriman supaya menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka...” (Surah an-Nuur, 24: 30)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata kepada Ali, “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan yang berikutnya. Sesungguhnya hak kamu adalah pandangan yang pertama itu sahaja.” (Hadis Riwayat Abu Daud, 1/335. Hadis hasan menurut Syaikh al-Albani)

Dari Jarir bin Abdullah, dia berkata: “Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkenaan pandangan sekilas (pandangan pertama). Beliau meemrintahkanku supaya segera memalingkan pandangan tersebut.” (Hadis Riwayat Muslim, 6/182)

Kesimpulan dari firman Allah dan hadis tersebut adalah, sekiranya wanita tersebut menutup wajah-wajah mereka, mengapa perlu untuk menundukkan pandangan? Dengan ini, ia menunjukkan bahawa pada wanita itu ada bahagian yang terbuka dan memungkinkan untuk dilihat.

Malah berdasarkan hadis tersebut, sekiranya wajah wajib ditutup, sudah tentu bukan sahaja Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan kaum lelaki memalingkan wajahnya, tetapi juga beliau akan memerintahkan wanita untuk mengenakan penutup wajah.



*kan cantik kalau semua wanita memakai purdah..dan menutup seluruh badannya kecuali muka dan tapak tgn dgn pakaian yg longgar dan jgn pula kita memakai baju adik kita yer..saye pun teringin nak pakai purdah..tapi,INSYAALLAH saya akan cuba memakainya..kita tunggu dan lihat,,..

REMAJA:dimana hilangnya malu??

SEORANG wanita melintas jalan. Dia cantik dan bergaya. Kulitnya mulus, pipinya gebu, bibirnya ‘ulas limau’, alisnya lentik, hidungnya mancung, matanya bundar dan bercahaya. Dadanya juga agak bidang. Lengannya putih jari-jemarinya halus dan runcing. Baju sendat menampakkan pusat dan skirt pendek yang disarung ke tubuh beralun sekali-sekala mengikut pergerakan tubuhnya.

Mata-mata yang melihat mula berimaginasi. Imaginasi itu sudah pasti yang indah-indah dan sudah semestinya bukan hal-hal yang baik.

Di satu sudut yang lain, seorang gadis berpakaian sopan dengan bertudung sempurna duduk di tepi taman. Di sisinya seorang lelaki sederhana tinggi yang juga berpakian sopan. Tangan mereka saling bertaut. Kadang, tangan si lelaki juga menjalari tubuh gadis. Mereka tersenyum, ketawa dan kelihatan sungguh bahagia.

Kelihatan juga sekumpulan gadis yang masih berpakaian sekolah. Ketawa berdekah-dekah, saling bertepuk tampar. Sesekali jeritan nyaring memecah suasana. Beberapa orang daripada mereka tidak bertudung. Di jari mereka terselit sebatang rokok. Mereka menghisap rokok.

Agak pedih dengan paparan itu, mata menerawang ke arah lain. Sebuah motosikal dipandu agak laju. Penunggangnya seorang lelaki muda yang lagaknya seperti mat rempit. Pemboncengnya pula seorang gadis. Gadis seksi dengan kelibat punggungnya yang separa bogel sedang erat memeluk pinggang lelaki yang sedang menunggang motosikal.

Wanita masa kini begitu liberal atau terbuka dalam banyak hal. Lihat sahaja golongan artis yang bebas berpakaian seksi dan banyak kali terlibat di dalam kancah skandal seks serta gambar dan video lucah mereka tersebar megah di dalam internet. Bukan artis sahaja, pelajar sekolah dan gadis remaja juga sering terlibat dengan penyakit sosial yang memalukan itu.

Apa hukuman untuk mereka yang terlibat dengan perbuatan memalukan itu? Ini merupakan musibah yang memudaratkan maruah wanita iaitu kehilangan rasa malu atau pudarnya sifat malu dalam diri mereka.

Di tengah–tengah masyarakat tidak kira sama ada di bandar atau desa, wanita seperti yang digambarkan di atas boleh ditemui. Kononnya dahulu, gadis atau wanita yang seksi begini hanya boleh ditonton di bandar-bandar besar.

Namun kini, pemandangan seperti itu sudah menular dan boleh dilihat di mana-mana jua.
Kampung atau bandar, desa atau pekan, sekolah, universiti, taman, pasar, pusat membeli belah dan sebagainya.

Secara realitinya, zaman dahulu fenomena wanita berpakaian seksi hanya terdapat di kelompok-kelompok tertentu dan di tempat-tempat tertentu. Malahan, hal-hal yang berkaitan ‘menconteng arang ke wajah’ juga sukar ditemui seperti kes khalwat atau zina, membuang anak, merokok, bergambar secara lucah, pelacuran dan sebagainya.

Keterbukaan masyarakat dan pendedahan tentang dunia semasa membuatkan wanita mula membuang sifat malu ke sisi yang kononnya dikatakan sifat malu itu merencatkan pembangunan sosial dan kemajuan dalam dunia wanita.

Tidak hairan, kini wanita mula dipandang sebagai golongan yang kini berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum lelaki. Wanita mula memegang pelbagai peranan dalan masyarakat, berkerjaya, bebas melontar pendapat dan berani dalam melakukan sesuatu tindakan.

Tidak hairan juga komoditi pasaran ekonomi sebahagian besarnya untuk wanita, daripada wanita, dan mengeksploitasi wanita. Hal sebegini banyak dibincangkan bukan sahaja oleh peneliti sosiobudaya malahan golongan wanita sendiri yang mendakwa diri mereka feminis atau pejuang hak wanita.

Mereka memperkata tentang penindasan terhadap wanita, hak sama rata yang harus dinikmati oleh wanita dan pelbagai perkara lagi yang menuntut suatu keadaan di mana wanita boleh menikmati apa yang dinikmati oleh kaum lelaki. Persoalan gender sebegini tidak akan habis sampai bila-bila.

Suatu hal yang kurang diperjuang oleh golongan feminis terutama untuk wanita yang beragama Islam ialah perjuangan mengembalikan wanita kepada lumrah asalnya iaitu memelihara maruah dan melapik diri dengan sifat malu.

Istilah malu mempunyai makna dan pengertian yang luas dalam Islam. Malu merupakan sebahagian daripada Iman. Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasullullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Iman itu ada lebih 60 cabang. Dan sifat malu adalah sebahagian daripada cabang iman.”

Malu atau dalam bahasa Arabnya ‘haya’ berasal daripada perkataan ‘hayat’ yang bermaksud kehidupan. Ia mencakupi sifat malu, memelihara aib diri dan orang lain, kesopanan, harga diri dan bersikap jujur dalam menjaga dan memelihara maruah kerana Allah.

Dalam Islam, sifat malu ditekankan pada setiap umatnya tidak kira sama ada wanita atau lelaki. Namun, wanita Muslimah ditekankan aspek menjaga maruah dan memiliki sifat malu memandangkan wanita merupakan golongan yang lemah, mempunyai 9 nafsu yang pelbagai serta dikatakan paling ramai menghuni neraka.Tentang hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Aku melihat ke dalam syurga, maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (Riwayat Bukhari dan Muslim daripada Ibnu Abbas dan Imran serta selain kedua-duanya)

Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan pernyataannya:

“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecenderungan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal...”

Selain iman yang lemah, membuang sifat malu untuk mengejar apa yang diimpikan dalam hidup juga merupakan satu kesilapan besar yang menjerumuskan wanita ke kancah kehinaan. Walau bagaimanapun, sifat malu terbahagi kepada dua iaitu malu yang bersifat kebaikan dan malu yang bersifat kejahatan.

Wanita khasnya dituntut mempunyai sifat malu terutama hal yang berkaitan maksiat dan larangan-larangan Allah. Apabila menghampiri hal-hal sebegini, mereka akan berasa malu, dan seterusnya memikirkan balasan Allah di dunia dan akhirat.

Manakala malu yang bersifat kejahatan pula ialah malu melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Dalam hal ini mereka bukan sahaja melakukan apa yang dilarang oleh Allah, malahan melanggar sistem sosial masyarakat sehingga melupakan balasan di dunia dan akhirat.

Wanita Muslimah atau wanita yang bertamadun tidak akan menggadaikan maruah dan membuang sifat malu semata-mata mahu kelihatan moden.

Mementingkan pandangan Allah s.w.t lebih bermakna daripada mementingkan pandangan masyarakat. Tidak kisahlah jika anda dilabel sebagai tidak moden, kolot dan sebagainya. Apa yang lebih penting ialah anda tahu menjaga maruah serta tahu kesan-kesan buruk yang akan berlaku kepada iman, maruah diri, keluarga dan masyarakat jika anda bertindak tidak tahu malu.

Memelihara malu diri sendiri dan menjaga aib (malu) orang lain sangat penting dalam pembinaan bangsa yang bermaruah. Malu dikatakan perisai dan perhiasan kepada wanita dan juga lelaki yang menghalang mereka dari terjerumus kelembah kehinaan serta dosa zahir dan batin.

Rasulullah juga pernah mengatakan bahawa malu adalah karektor bagi agama Islam serta mempunyai sifat malu yang sebenar-benarnya tidak akan menyebabkan perkara yang tidak baik.

Memandangkan dunia semakin berkembang dengan segala macam teknologi dan perubahan dari semua aspek, sudah sewajarnya setiap wanita menilai kembali sifat semulajadi atau lahiriah seorang wanita yang suatu waktu dahulu cukup kebal dengan sifat pemalu.

Sifat pemalu tidak akan menyekat pergerakan wanita untuk mengikuti perkembangan dunia semasa. Malahan wanita yang pemalu lebih berjaya bukan sahaja di dunia malah di akhirat juga kelak. Insya-Allah.

Sudah tiba masanya, kumpulan atau golongan yang memperjuangkan hak wanita dan dunia wanita mengubah persepsi mereka terhadap peranan dan diri wanita dalam dunia masa kini. Mengejar kejayaan, kemodenan, kesamarataan taraf, menghindar penindasan dan sebagainya harus diperjuang, tanpa mengikis sifat wanita yang hakiki iaitu pemalu.

Malu adalah lambang iman yang akan membawa seseorang ke syurga. Rasulullah s.a.w pernah bersabda yang bermaksud:

“Malu dan amanah adalah perkara yang mula-mula sekali hilang dari dunia ini, sebab itu mintalah dengan Allah untuk kedua-duanya” (Riwayat Bukhari)

Pemalu bukan sahaja memperlihatkan kemanisan akhlak dan ketinggian akidah seseorang wanita. Malah, memelihara diri wanita itu sendiri daripada kehinaan dan kemusnahan peribadi secara beransur-ansur. Percayalah bahawa sifat malu tidak akan menyisihkan anda dari arus globalisasi. Malah, anda akan lebih berkeyakinan serta jelas dengan tujuan anda untuk melakukan sesuatu perkara.
Remaja Berakhlak di Bawah Panji-Panji Nabi Yusuf as.
www.iluvislam.com
dihantar oleh : yati87*
editor : IskethaykaL


@}---~---{@




Masa remaja adalah zaman yang penuh dengan cabaran. Golongan remaja dengan keadaan fizikal yang segar bugar, ketika inilah gelombang syahwat sangat bergelora. Tidak mudah untuk mengawal segala dorongannya, apatah lagi jika kehidupan mereka tidak terikat dengan keimanan dan batas-batas syariat.

Kesempatan untuk bergaul bebas sentiasa terbuka, lebih-lebih lagi hidup dalam negara dan masyarakat yang tidak melaksanakan hukum dan undang-undang Allah SWT. Budaya maksiat yang sengaja disuburkan melalui pelbagai konsert yang mendorong mereka menjadikan artis sebagai sanjungan dan ikutan, bukan sahaja meruntuhkan akhlak remaja, bahkan menyebabkan mereka menganggap maruah dan kehormatan seolah-olah tidak bernilai. Dengan mudah mereka menyerah kepada seseorang lantaran runtunan hawa hafsu.

Budaya barat bersalut dengan kekufuran dan kemaksiatan sentiasa mengalir melalui media elektronik, termasuk juga video lucah menjadikan remaja sebagai sasarannya. Dalam suasana yg begitu onar, mungkin terdapat segelintir remaja yang hidup terasuh dalam keluarga yang berteraskan tarbiah islam, mendampingkan diri dengan kelompok yang berpegang teguh dengan ajaran islam. Dengan suasana yang murni itu, mereka memiliki daya tahan daripada ancaman pengaruh mungkar.

Tidak mudah untuk menjadi seorang remaja mukmin dan berakhlak mulia, lebih-lebih lagi dalam suasana negara dan pemerintahannya mengabaikan peraturan Allah SWT. Dengan pengaruh persekitaran yang lebih menjerumus kepada dunia hiburan yang melampau, hanya remaja yang mendapat taufik dan hidayah Allah SWT serta asuhan dan bimbingan daripada ibu bapa yang berpegang teguh dengan hukum Allah SWT sahaja akan selamat daripada segala bencana itu.



Hanya golongan remaja yang memiliki benteng pertahanan iman, serta berakhlak yang mulia, merupakan golongan yang telah berjuang sepenuh upaya untuk menjadi remaja yang bermoral tinggi. Allah SWT amat menghargai kesungguhan remaja seperti itu. Oleh sebab itulah apabila mereka tiba di padang Mahsyar, mereka akan disambut dengan segala pujian dan sanjungan daripada para malaikat. Malah kehadirannya akan disambut oleh Allah SWT dengan ucapan "selamat datang wahai para remaja yang baik".

Demikianlah penghargaan dan balasan Allah SWT terhadap para remaja yang bekerja keras serta bersungguh-sungguh mengawal diri daripada segala pengaruh buruk yang sedang bermaharajalela di sekitar mereka. Berkat kesabaran menahan diri daripada hidup berseronok dan berfoya-foya yang bersifat sementara di dunia ini, mereka akan mendapat keseronokan yang abadi di Akhirat kelak.

Setelah Allah SWT mengucapkan selamat datang kepada para remaja yang berakhlak mulia itu, lalu diperintahkan para malaikat supaya menempatkan para remaja itu di sebelah kanan. Untuk mereka, disediakan bendera berwarna hijau, lalu Allah Taala menyeru Nabi Yusuf AS untuk menerima bendera tersebut bagi mengetuai para belia yang mukmin, berakhlak, sabar dan mempunyai ilmu pengetahuan. Nabi Yusuf terpilih menjadi ketua para belia yg baik budi pekerti kerana Baginda adalah seorang Nabi yg sangat kacak dan tampan.

Ketampanannya menggoda ramai wanita, hingga ada wanita yang tertawan dan cuba menggodanya. Namun, Nabi Yusuf berjaya mengatasi semua halangan dan godaan itu. Ulamak tafsir menyifatkan kecantikan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia di dunia ini hanyalah separuh daripadanya ada pada Nabi Yusuf AS. Dalam Al-Quran terdapat satu surah khas yang bernama "Surah Yusuf", yang bukan sahaja menceritakan paras rupa Nabi Yusuf yang tampan dan menawan, tetapi juga menceritakan segala kebaikan dan kelebihan Baginda. Alangkah bertuahnya para belia itu kerana mendapat ketua seorang Nabi yang termasyhur, iaitu Nabi Yusuf AS.

Bersesuaian dengan ketabahan dan kekuatan hati Baginda yang berjaya menghadapi fitnah wanita. Maka demikian jugalah para remaja yang berjaya menghadapi segola godaan dan cubaan alam remaja, maka mereka akan bersama-sama Nabi Yusuf di bawah panji-panji hijau di Akhirat kelak. Setelah itu, Allah SWT memuliakan orang-orang yang menjalinkan hubungan baik sesama manusia semata-mata kerana Allah SWT. Mereka berkawan bukan kerana wang ringgit yang selalu diterima atau kerana pertolongannya semasa mendapat kesusahan, tetapi hubungan baiknya hanya atas dorongan hati yang ikhlas. Justeru, mereka mendapat ganjaran yang besar daripada Allah SWT kerana sifat yang terpuji itu. Sifat kasih mesra sesama insan itu merupakan benteng penghalang daripada segala persengketaan dan pemusuhan.